
Mereka tidak pernah menuntut dikenang.
Namun pantaskah kita terus melupakan?
Di balik hafalan Al-Qur’an yang dilantunkan santri, ada suara lembut seorang guru yang membimbing dengan kesabaran tak terbatas.
Di balik akhlak mulia yang tumbuh, ada ustadzah yang mengajarkan cinta tanpa pamrih.
Namun, di balik semua cahaya itu—sering kali, kehidupan mereka sendiri justru tenggelam dalam kegelapan. Ada ustadz yang tak memiliki sepatu layak, ustadzah yang menahan sakit karena tak mampu beli obat.
Ilmu mereka menerangi banyak jiwa, tapi kehidupan mereka sendiri meredup dalam keterbatasan. Tanpa mereka, tak ada santri yang mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih. Tanpa mereka, nilai-nilai kebaikan tak akan diwariskan.
Namun hingga kini, mereka terus mengabdi dalam senyap.